Nori Irawati

Corynebacterium diphtheriae
( Laporan mikrobiologi )



Oleh
Nori Irawati
1117021037








JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAUAN ALAM
UNIVERSITAS LAMPUNG
2013


BAB I
   PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Toksin adalah segala bentuk zat yang memiliki efek destruktif bagi fungsi sel dan struktur sel tubuh. Adapun beberapa toksin yang bersifat fatal dan beberapa bersifat lebih ringan. Toksin didefinisikan sebagai bahan kimia atau unsur berbahaya yang dihasilkan secara semuala. Jadi atau bukan semula jadi, bahan-bahan yang tidak boleh digunakan dan bahan yang dibuang dari tubuh kita. Toksin merupakan racun yang dapat mengalahkan berbagai penyakit dan gangguan-gangguan pada kesehatan seperti kanker, penyakit pada perut dan lain-lain. Toksin berada di mana-mana, badan kita dipenuhi dengan toksin dan diserap masuk ke dalam tubuh melalui udara yang terhirup air yang diminum, makanan yang dikonsumsi. Di dalam rumahpun toksin dapat tersebar melalui asap rokok, alat penyegar udara, dan lainnya. Di luar rumah, toksin dibawa oleh asap kendaraan, asap kilang, udara yang tercemar serta bahan kimia pertanian. Adapun salah satu dari bakteri yang dapat menghasilkan toksin yaitu corynebacterium diphteri. Corynobacterium diphtheria ini dapat menyebabkan penyakit difteri. Distribusi penyakit tetanus diseluruh dunia terutama pada Negara-negara miskin yang penduduknya tinggal pada tempat pemukiman yang rapat, hygiene dan sanitasiny jelek dan fasilitas kesehatan jelek dan kurang. Goongan umur yang paling sering terkena adalah 2-010 tahun jarang pada umur dibawah 6 bulan akibat imunisasi pasif dari ibu melalui plasenta juga jarang pada orang dewasa ditas 15 tahun. Penulatan bisa dari kontak dengan pasien diferi / carrier difteroi. Basil ditularkan lewat kontak langsung seperti batuk, bersisi, berbicara, dan kontak tidak langsunga lewat dahak, bauju / buku atau mainan yang terkontaminasi karena basil ini cukup resisten dnegan udara, panaas, dingin dan kering. Penularannya berbahaya karena tidak dikenal dan bersifat silent.
Sejalan dengan perkembangan kedokteran untuk mengatsi penyakit ini dibuatkan vaksin anti difteri. Dimana vaksin ini akan meningkatkan antibody tubuh. Difteri ini adalah penyakit yang sangat menular yang umumnya menyerang daerah tenggorokan. Setelah inkubasi 2-6 hari dengan peradangan pada tenggorokan gehala lain yang ditimbulkan yaitu tubuh melemah serta demam. Pada saat telah terbentuk selaput lemak di wilayah tenggorokan maka menyebabkan penderuita sulit bernafas dan menelan makanan, sehingga umumnya terpaksa dilakukan tracheostomy pembuatan lubang di bagian tenggorokan agar penderita lebih mudah bernafas dan dapat dipasang selang makanan. Untuk itu kita harus waspada dan melakukan imunisasi rutin dan lengkap. Toksin corynobacterium ini mempunyai dampak negatif bagi manusia yaitu menyebabkan penyakit DIFTERI sedangkan segi positifnya sangat berguna bagi ilmu kedokteran untuk pengobatan penyakit difteri dengan dilakukannya penelitian pembuatan vaksin untuk imunisasi

2. Tujuan
  Adapun tujuan dari penulisan makalah ini :
1. Untuk mengetahui toksin corynobacterium diphtheria
2. Untuk mengetahui dan memahami patogenesis dan patofisologi corynobacterium                                                 

BABII
PEMBAHASAN


Corynebacterium diphtheriae
merupakan makhluk anaerobik fakultatif dan grapositif, ditandai dengan tidak berkapsul, tidak berspora, dan tak bergerak. Corynebacterium diphtheriae terdiri dari 3 biovar, yaitu gravis, mitis, dan intermedius. Di alam, bakteri ini terdapat dalam saluran pernapasan, dalam luka-luka, pada kulit orang yang terinfeksi, atau orang normal yang membawa bakteri. Bakteri yang berada dalam tubuh akan mengeluarkan toksin yang aktivitasnya menimbulkan penyakit difteri. Bakteri ini biasanya menyerang saluran pernafasan, terutama terutama laring, amandel dan tenggorokan. Penyakit ini sering kali diderita oleh bayi dan anak-anak. Perawatan bagi penyakit ini adalah dengan pemberian antitoksin difteri untuk menetralkan racun difteri, serta eritromisin atau penisilin untuk membunuh bakteri difteri. Sedangkan untuk pencegahan bisa dilakukan dengan vaksinasi dengan vaksin DPT. Corynebacterium diphtheriae adalah bakteri patogen yang menyebabkan difteri berupa infeksi akut pada saluran pernapasan bagian atas. Ia juga dikenal sebagai basil Klebs-Löffler, karena ditemukan pada tahun 1884 oleh bakteriolog Jerman, Edwin Klebs (1834-1912) dan Friedrich Löffler (1852-1915).
Ada tiga strain C. diphtheriae yang berbeda yang dibedakan oleh tingkat keparahan penyakit mereka yang disebabkan  pada manusia yaitu gravis, intermedius, dan mitis. Ketiga subspesies sedikit berbeda dalam morfologi koloni dan sifat-sifat biokimia seperti kemampuan metabolisme nutrisi tertentu. Perbedaan virulensi dari tiga strain dapat dikaitkan dengan kemampuan relatif mereka untuk memproduksi toksin difteri (baik kualitas dan kuantitas), dan tingkat pertumbuhan masing-masing. Strain gravis memiliki waktu generasi (in vitro) dari 60 menit; strain intermedius memiliki waktu generasi dari sekitar 100 menit, dan mitis memiliki waktu generasi dari sekitar 180 menit.. Dalam tenggorokan (in vivo), tingkat pertumbuhan yang lebih cepat memungkinkan organisme untuk menguras pasokan besi lokal lebih cepat dalam menyerang jaringan.
Klasifikasi Ilmiah
Kerajaan : Bacteria
Filum      : Actinobacteria
Class       : Actinobacteria
Ordo       : Actinomycetales
Familia    : Corynebacteriaceae
Genus     : Corynebecteri
Spesies    : Corynebacterium diphtheriae

Nama Binomial
Corynebacterium diphtheriae Kruse, 1886
Morfologi dan Identifikasi
Korinebakteria berdiameter 0,5 – 1 μm dan panjangnya beberapa mikrometer. Ciri khas bakteri ini adalah pembengkakan tidak teratur pada salah satu ujungnya, yang menghasilkan bentuk seperti ”gada”. Di dalam batang tersebut (sering di dekat ujung) secara tidak beraturan tersebar granula-granula yang dapat diwarnai dengan jelas dengan zat warna anilin (granula metakromatik) yang menyebabkan batang tersebut berbentuk seperti tasbih. Tiap korinebakteria pada sediaan yang diwarnai cenderung terletak paralel atau membentuk sudut lancip satu sama lain. Percabangan jarang ditemukan dalam biakan.
Corynebacterium diphtheriae merupakan makhluk anaerobik fakultatif dan gram positif, ditandai dengan tidak berkapsul, tidak berspora, dan tak bergerak. Bakteri ini membentuk asam, tetapi tidak membentuk gas pada beberapa karbohidrat. Corynebacterium diphtheriae terdiri dari 3 biovar, yaitu gravis, mitis, dan intermedius. Varian ini diklasifikasikan berdasarkan ciri khas pertumbuhan seperti morfologi koloni, reaksi biokimia, dan berbagai penyakit yang disebabkan oleh infeksi.

Epidemiologi 
Difteri terdapat di seluruh dunia dan sering terdapat dalam bentuk wabah. Penyakit ini terutama menyerang anak umur 1-9 tahun. Difteri mudah menular dan menyebar melalui kontak langsung secara droplet. Banyak spesies Corynebacteria dapat diisolasi dari berbagai tempat seperti tanah, air, darah, dan kulit manusia. Strain patogenik dari Corynebacteria dapat menginfeksi tanaman, hewan, atau manusia. Namun hanya  manusia yang diketahui sebagai reservoir penting infeksi penyakit ini. Bakteri ini umumnya ditemukan di daerah beriklim sedang atau di iklim tropis, tetapi juga dapat ditemukan di bagian lain dunia. 

Patogenesis
Di alam, Corynebacterium diphtheriae terdapat dalam saluran pernapasan, dalam luka-luka, pada kulit orang yang terinfeksi, atau orang normal yang membawa bakteri. Bakteri disebarkan melalui droplet atau kontak dengan individu yang peka. Bakteri kemudian tumbuh pada selaput mukosa atau kulit yang lecet, dan bakteri mulai menghasilkan toksin. Pembentukan toksin ini secara in vitro terutama bergantung pada kadar besi. Pembentukan toksin optimal pada kadar besi 0,14 μg/ml perbenihan tetapi benar-benar tertekan pada 0,5 μg/ml. Faktor lain yang mempengaruhi timbulnya toksin in vitro adalah tekanan osmotik, kadar asam amino, pH, dan tersedianya sumber-sumber karbon dan nitrogen yang cocok. Toksin difteri adalah polipeptoda tidak tahan panas (BM 62.000) yang dapat mematikan pada dosis 0,1 μg/kg. Bila ikatan disulfida dipecah, molekul dapat terbagi menjadi 2 fragmen, yaitu fragmen A dan fragmen B. Fragmen B tidak mempunyai aktivitas tersendiri, tetapi diperlukan untuk pemindahan fragmen A ke dalam sel. Fragmen A menghambat pemanjangan rantai polipeptida (jika ada NAD) dengan menghentikan aktivitas faktor pemanjangan EF-2. Faktor ini diperlukan untuk translokasi polipeptidil-RNA transfer dari akseptor ke tempat donor pada ribosom eukariotik. Fragmen toksin A menghentikan aktivitas EF-2 dengan mengkatalisis reaksi yang menhasilkan nikotinamid bebas ditambah suatu kompleks adenosin difosfat-ribosa-EF-2 yang tidak aktif. Diduga bahwa efek nekrotik dan neurotoksik toksin difteria disebabkan oleh penghentian sintesis protein yang mendadak

Sifat Biakan
Kuman difteri berbentuk batang ramping berukuran 1,5-5 um x 0,5-1 um, tidak berspora, tidak bergerak, termasuk Gram positif, dan tidak tahan asam. C. diphtheriae bersifat anaerob fakultatif, namun pertumbuhan maksimal diperoleh pada suasana aerob. Pembiakan kuman dapat dilakukan dengan perbenihan Pai, perbenihan serum Loeffler atau perbenihan agar darah. Pada perbenihan-perbenihan ini, strain mitis bersifat hemolitik, sedangkan gravis dan intermedius tidak. Dibanding dengan kuman lain yang tidak berspora, C. diphtheriae lebih tahan terhadap pengaruh cahaya, pengeringan dan pembekuan. Namun, kuman ini mudah dimatikan oleh desinfektan.

Patologi
Toksin difteria diabsorbsi ke dalam selaput mukosa dan menyebabkan destruksi epitel dan respons peradangan superfisial. Epitel yang mengalami nekrosis tertanam dalam eksudat fibrin dan sel-sel darah merah dan putih, sehingga terbentuk ”pseudomembran” yang berwarna kelabu –yang sering melapisi tonsil, faring, atau laring. Setiap usaha untuk membuang pseudomembran akan merusak kapiler dan mengakibatkan pendarahan. Kelenjar getah bening regional pada leher membesar, dan dapat terjadi edema yang nyata di seluruh leher.
Corynebacterium diphtheriae dalam selaput terus menghasilkan toksin secara aktif. Toksin ini diabsorbsi dan menakibatkan kerusakan di tempat yang jauh, khususnya degenerasi parenkim, infiltrasi lemak, dan nekrosis otot jantung, hati, ginjal, dan adrenal, kadang-kadang diikuti oleh pendarahan hebat. Toksin juga mengakibatkan kerusakan syaraf yang sering mengakibatkan paralisis palatum molle, otot-otot mata, atau ekstremitas.

Masa inkubasi difteri adalah 2-5 hari (jangkauan, 1-10 hari). Untuk tujuan klinis, akan lebih mudah untuk mengklasifikasikan difteri menjadi beberapa manifestasi, tergantung pada tempat penyakit.

1)Anterior nasal difteri : Biasanya ditandai dengan keluarnya cairan hidung mukopurulen (berisi baik lendir dan nanah) yang mungkin darah menjadi kebiruan. Penyakit ini cukup ringan karena penyerapan sistemik toksin di lokasi ini, dan dapat diakhiri dengan cepat oleh antitoksin dan terapi antibiotik.

2)Pharyngeal dan difteri tonsillar : Tempat yang paling umum adalah infeksi faring dan tonsil. Awal gejala termasuk malaise, sakit tenggorokan, anoreksia, dan demam yang tidak terlalu tinggi. Pasien bisa sembuh jika toksin diserap. Komplikasi jika pucat, denyut nadi cepat, pingsan, koma, dan mungkin mati dalam jangka waktu 6 sampai 10 hari. Pasien dengan penyakit yang parah dapat ditandai terjadinya edema pada daerah submandibular dan leher anterior bersama dengan limfadenopati.

3)Difteri laring : Difteri laring dapat berupa perpanjangan bentuk faring. Gejala termasuk demam, suara serak, dan batuk menggonggong. membran dapat menyebabkan obstruksi jalan napas, koma, dan kematian.

4)Difteri kulit : Difteri kulit cukup umum di daerah tropis. Infeksi kulit dapat terlihat oleh ruam atau ulkus dengan batas tepi dan membran yang jelas. Situs lain keterlibatan termasuk selaput lendir dari konjungtiva dan daerah vulvo-vagina, serta kanal auditori eksternal. 

Kebanyakan komplikasi difteri, termasuk kematian, yang disebabkan oleh pengaruh toksin terkait dengan perluasan penyakit lokal. Komplikasi yang paling sering adalah miokarditis difteri dan neuritis. Miokarditis berupa irama jantung yang tidak normal dan dapat menyebabkan gagal jantung. Jika miokarditis terjadi pada bagian awal, sering berakibat fatal. Neuritis paling sering mempengaruhi saraf motorik. Kelumpuhan dari jaringan lunak, otot mata, tungkai, dan kelumpuhan diafragma dapat terjadi pada minggu ketiga atau setelah minggu kelima penyakit.
Komplikasi lain termasuk otitis media dan insufisiensi pernafasan karena obstruksi jalan napas, terutama pada bayi. Tingkat fatalitas kasus keseluruhan untuk difteri adalah 5% -10%, dengan tingkat kematian lebih tinggi (hingga 20%). Namun, tingkat fatalitas kasus untuk difteri telah berubah sangat sedikit selama 50 tahun terakhir. 

Diagnosis
Diagnosis klinik difteri tidak selalu mudah ditegakkan oleh klinikus-klinikus dan sering terjadi salah diagnosis. Hal ini terjadi karena strain C. Diphtheriae baik yang toksigenik maupun nontoksigenik sulit dibedakan, lagipula spesies Corynebacterium yang lain pun secara morfologik mungkin serupa. Karena itu bila pada pemeriksaan mikroskopik ditemukan kuman khas difteri, maka hasil presumtif adalah: ditemukan kuman-kuman tersangka difteri. Hal ini menunjukkan pentingnya dilakukan diagnosis laboratorium secara mudah, cepat, dan dengan hasil yang dipercaya untuk membantu klinikus. Walaipun demikian, diagnosis laboratorium harus dianggap sebagai penunjang bukan pengganti diagnosis klinik agar penanganan penyakit dapat cepat dilakukan. Hapusan tenggorok atau bahan pemeriksaan lainnya harus diambil sebelum pemberian obat antimikroba, dan harus segera dikirim ke laboratorium. Selain antitoksin, umumnya diberi Penisilin atau antibiotik lain seperti Tetrasiklin atau Eritromisin yang bermaksud untuk mencegah infeksi sekunder (Streptococcus) dan pengobatan bagi carrier penyakit ini. Pengobatan dengan eritromisin secara oral atau melalui suntikan (40 mg / kg / hari, maksimum, 2 gram / hari) selama 14 hari, atau penisilin prokain G harian, intramuskular (300.000 U / hari untuk orang dengan berat 10 kg atau kurang dan 600.000 U / sehari bagi mereka yang berat lebih dari 10 kg) selama 14 hari. 
Faktor status gizi dan sosial ekonomi : Faktor sosial yang terkait erat dan berkontribusi besar dalam penyebaran difteri adalah kemiskinan yang terkait dengan aspek kepadatan hunian dan rendahnya hygiene sanitasi kulit.
Terdapat hubungan yang saling terkait antara asupan gizi dan penyakit infeksi. Pasa satu sisi penyakit infeksi menyebabkan hilangnya nafsu makan, sehingga asupan gizi menjadi berkurang, sebaliknya tubuh sedang memerlukan masukan yang lebih banyak sehubungan dengan adanya destruksi jaringan dan suhu yang meninggi, hingga anak dalam malnutrisi marginal menjadi lebih buruk keadaannya. Keadaan gizi yang memburuk menurunkan daya tahan terhadap infeksi sehingga akan lebih cepat menjadi sakit. Sementara berkurangnya antibodi dan sistem imunitas akan mempermudah tubuh terserang infeksi seperti; pilek, batuk dan diare.
Faktor Perilaku:
Kebiasaan yang dilakukan sehari-hari yang dapat mempengaruhi terjadinya penularan atau penyebaran penyakit difteri adalah sebagai berikut : tidak menutup mulut bila batuk atau bersin sehingga mempermudah penularan penyakit pada orang lain, membuang ludah/dahak tidak pada tempatnya, tidak membuka jendela, mencuci alat makan dengan bersih, memakai alat makan bergantian.

Faktor Lingkungan:
Faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap kejadian difteri antara lain meliputi tingkat kepadatan hunian rumah, sanitasi rumah, serta faktor pencahayaan dan ventilasi. Faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi munculnya penyakit seperti kita ketahui ada lingkungan fisik biologi, social dan ekonomi. Faktor lingkungan fisik yang meliputi kondisi geografi, udara, musim dan cuaca sangat mempengaruhi kerentanan seseorang terhadap jenis penyakit tertentu. Hal ini berkaitan dengan kebiasaan seseorang dalam adapatasi dengan lingkungannya tersebut
Pengobatan
Antitoksin difteri diproduksi dari kuda, yang pertama kali digunakan di Amerika Serikat pada tahun 1891. Pengobatan difteri dilakukan dengan pemberian antitoksin yang tepat jumlahnya dan juga cepat. Antitoksin dapat diberikan setelah diagnosis presumtif keluar, tanpa perlu menunggu diagnosis laboratorium. Hal ini dilakukan karena toksin dapat dengan cepat terikat pada sel jaringan yang peka, dan sifatnya irreversibel karena ikatan tidak dapat dinetralkan kembali. Jadi penggunaan antitoksin bertujuan untuk mencegah terjadinya ikatan lebih lanjut dari toksin dalam sel jaringan yang utuh dan akan mencegah perkembangan penyakit.


    

                                               

 Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang diperoleh dari pembahasan yaitu

1. Difteri adalah suatu infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri pennghasil toksin yaitu corynebacterium dephtheriae.
2.  Beberapa tahun yang lalu difteri merupakan salah satu penyakit yang menyebabkan kemdatian pada anak-anal.
3. Penyuakit ini menyerang saluran pernapasan (terutama laring, tenggorokan, dan amandel)
4.  bisa juga menyerang skulit dan toksin yang dihasilkan corynebacterium diphtheriae bias menyuebabkan kerusakan pada saraf dan jantung.
5. PatogenesisBasil akian berkembang pada saluran nafas bagian atas.
6.  Basil ini juga dapat berkembang pada daerah kulit, vulva dan telinga. Basil ini akan membentuk pseudromembran dan melepaskan eksotoksin dalam tubuh


DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2013, The Complete Genome Sequence and Analysis of Corynebacterium    diphtheriae NCTC 13129, www.google.com, diakses tanggal 21 April 2013
Anonim, 2013, Difteri, www.balita-anda.indoglobal.com/pdf, diakses tanggal 21 april 2013
Anonim, 2013, Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi, www. dinkes.denpasarkota.go.id, diakses tanggal 20 april 2013
Jawetz, E., 1996, Mikrobiologi Kedokteran, EGC, Jakarta.
Oswari, E., 1991. Penyakit dan Penanggulangannya, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Prosedur kerja surveilans faktor risiko penya kit menular dalam intensifikasi pemberantasan penya kit menular terpadu berbasis wilayah, khusus faktor risiko lingkungan dan perilaku penyakit ISPA, Malaria, TBC, Campak, Difteri, Pertusis, Tetanus, Polio dan Hepatitis B, Dirjen PPM&PL, Depkes  RI. 2004.
Achmadi, UF. 2005. Manajemen Penyakit Berbasis Wilayah
Depkes RI. 2003.  Pedoman Penyelidikan Epidemiologi Kejadian Luar Biasa (KLB)

Depkes RI. 2009. Dasar-Dasar Epidemiiologi. Modul 2, Ditjen P2PL Depkes RI
Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 829/MENKES/VII/1999, Tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan
Cameron C, et al. 2006. Diphtheria boosters for adult : Balancing risks, Travel Medicine and infectious Disesase








0 Responses

Posting Komentar