Nori Irawati
Equistinae
(
Laporan Praktikum Pterydologi)


Oleh
Nori Irawati
1117021037









JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAUAN ALAM
UNIVERSITAS LAMPUNG
2013


BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar belakang
Tumbuhan paku merupakan tumbuhan berkormus dan berpembuluh yang paling sederhana. Terdapat lapisan pelindung sel (jaket steril) di sekeliling organ reproduksi, sistem transpor internal, hidup di tempat yang lembap. Akar serabut berupa rizoma, ujung akar dilindungi kaliptra. Sel-sel akar membentuk epidermis, korteks, dan silinder pusat (terdapat xilem dan fleom).
Beradasarkan bentuk dan ukurannya susunannya daun tumbuhan paku dibedakan menjadi mikrofil dan makrofil. Mikrofil bentuk kecil atau bersisik, tidak bertangkai, tidak bertulang daun, belum memperlihatkan diferensiasi sel. Makrofil daun besar, bertangkai, bertulang daun, bercabang-cabang, sel telah terdiferensiasi. Berdasarkan fungsinya daun tumbuhan paku dibedakan menjadi tropofil dan sporofil. Tropofil merupakan daun yang khusus untuk asimilasi atau fotosintesis. Sporofil berfungsi untuk menghasilkan spora. Spora tumbuhan paku dibentuk dalam kotak spora (sporangium). Kumpulan sporangium disebut sorus. Sorus muda sering dilindungi oleh selaput yang disebut indusium. Berdasarkan macam spora yang dihasilkan tumbuhan paku dibedakan menjadi tiga yaitu paku homospora (isospora), paku heterospora dan paku peralihan. Paku homospora menghasilkan satu jenis spora (ex Lycopodium/paku kawat). Paku heterospora menghasilkan dua jenis spora yang berlainan yaitu megaspora (ukuran besar) dan mikrospora (ukuran kecil) (ex Marsilea/semanggi dan Selaginella/paku rane). Paku peralihan merupakan peralihan antara homospora dan heterospora menghasilkan spora pbentuk dan ukurannya sama tetapi berbeda jenis kelamin (ex Equisetum debile/paku ekor kuda). Tumbuhan paku bereproduksi secara aseksual (vegetatif) dengan stolon yang menghasilkan gemma (tunas). Gemma adalah anakan pada tulang daun atau kaki daun yang mengandung spora. Reproduksi seksual (generatif) melalui pembentukan sel kelamin jantan/spermatozoid (gametangium jantan/anteridium) dan sel kelamin betina/ovum (gametangium betina/arkegonium). Seperti pada lumut tumbuhan paku juga mengalami pergiliran keturunan/metagenesis. Metagenesis tersebut dibedakan antara paku homospora dan heterospora.Tumbuhan paku dibedakan menjadi empat kelompok yaitu Psilotophyta, Lycophyta, Sphenophyta, dan Pterophyta. Psilotophyta mempunyai dua genera (ex Psilotum sp). Psilotum sp tersebar luas di daerah tropik dan subtropik, mempunyai ranting dikotom, tidak memiliki akar dan daun, pengganti akar berupa rizoma diselubungi rambut-rambut yang dikenal rizoid.Lycophyta contohnya Lycopodium sp dan Selaginella sp. Lycopodium sp sporanya dalam sporofit daun khusus untuk reproduksi dan dapat bertahan dalam tanah selama 9 tahun, dapat menghasilkan spora tunggal yang berkembang menjadi gametofit biseksual (memiliki baik organ jantan dan betina), jenis homospora. Selaginella sp merupakan tanaman heterospora, menghasilkan dua jenis spora (megaspora/gamet betina dan mikrospora/gamet jantan). Sphenophyta sering disebut paku ekor kuda, bersifat homospora, mempunyai akar; batang; daun sejati, batangnya keras karena dinding sel mengandung silika. Contohnya Equisetum debile (paku ekor kuda).Pterophyta (paku sejati) umumnya tumbuh di darat pada daerah tropis dan subtropis. Daunnya besar, daun muda menggulung. Sporangium terdapat pada sporofil (daun penghasil spora). Contohnya: Adiantum cuncatum (paku suplir untuk hiasan), Marsilea crenata (semanggi untuk sayuran), Asplenium nidus (paku sarang burung), Pletycerium bifurcatum (paku tanduk rusa).   
B. Tujuan
  1. Untuk mengetahui cirri-ciri dari Equestinae.
  2. Untuk mengetahui bangsa  dari Equestinae.
  3. Untuk mengetahui manfaat dari Equestinae dalam kehidupan sehari – hari.



















TINJAUAN PUSTAKA


sebagian di darat, sebagian di rawa-rawa. Memiliki semacam rimpang yang merayap, dengan cabang yang berdiri tegak. Pada buku-buku batang terdapat suatu karangan daun serupa selaput atau sisik, berbentuk runcing, mempunyai satu berkas pengangkut kecil. Karena daun amat kecil, batang dan cabang-cabangnya yang mempunyai fungsi sebagai asimilator, tampak berwarna hijau karena mengandung klorofil. Di antara warga Equisetales terdapat beberapa jenis yang mempunyai semacam umbi untuk menghadapi kala yang buruk, ada pula yang tetap berwarna hijau.
Sporofil tersusun dalam rangkaian yang berseling, dan karena pendeknya ruas-ruas pendukung sporofil, maka rangkaian sporofil terkumpul menyerupai suatu kerucut pada ujung batang. Sporofil berbentuk perisai atau meja dengan satu kaki di tengah, dengan beberapa sporangium (5-10) berbentuk kantung pada sisi bawahnya.
Jaringan sporogen mula-mula diliputi oleh dinding yang terdiri atas beberapa lapis sel. Seperti biasanya, dinding sel-sel dalam (tupetum) terlarut, plasmanya merupakan periplasmodium yang masuk di antara spora-spora, dan habis terpakai untuk pembentrukan dinding spora. Jika spora telah masak, sporangium hanya mempunyai dinding yang terdiri atas selapis sel saja. Sel-selnya mempunyai penebalan berbentuk spiral atau cincin. Sporangium yang telah masak pecah menurut suatu retak pada bagian dinding yang menghadap ke dalam. Retak itu terjadi karena pengaruh kekutan kohesi air yang menguap dan berkerutnya dinding sel yang tipis pada waktu mengering.
Spora mempunyai dinding yang terdiri atas endo- dan eksosporium, dan di samping itu masih mempunyai perisporium yang berlapis-lapis. Lapisan perisporium yang paling luar terdiri atas dua pita sejajar yang dalam keadaan basah membalut spora. Pita itu ujungnya agak melebar seperti lidah . Jika spora menjadi kering, pita itu terlepas dari gulungannya, akan tetepi kurang lebih di tengah-tengahnya tetap melekat pada eksosporium. Dengan adanya pita yang memperlihatkan gerakan higroskopik itu, pemencaran spora di permudah, dan itu kemungkinan adanya beberapa spora yang selalu bergandeng-gandengan amatlah besar, dan bila spora dan jatuh di tempat yang amatlah besar, dan bila spora • dan • jatuh di tempat yang berdekatan, tentulah dalam perkembangan selanjutnya protalium • akan berdekatan pula dengan protalium •. Pada perkecambahan spora, rhizoid keluar dari bagian yang tidak menghadap sinar matahari.
Sel-sel lainnya berkembang terus menjadi bagian protalium yang berwarna hijau. Protalium berupa talus yang bercabang-cabang, dapat berumah satu, tetapi biasanya berumah dua. Anteridium terbenam dalam protalium • dan mengeluarkan spermatozoid berbentuk sekrup dengan banyak bulu cambuk.
Zigot mula-mula membelah menjadi dua sel, tetapi berlainan dengan Lycopodium, pada Equisetales tidak terbentuk suspensor, melainkan kedua sel itu membelah-belah lagi. Embrio pada Equisetales letaknya eksokopik, tunas mempunyai sel ujung bentuk piramid. Bakal akar terletak di bagian samping sumbu panjangnya.
Beberapa jenis tumbuhan ini mempunyai sebagian batang yang tetap steril dan banyak bercabangcabang, dan cabang-cabang itu tersusun dalam karangan. Sel-sel epidermis batang mengandung zat kersik pada dinding yang sebelah luar, oleh sebab itu abu batang tumbuhan ini dapat digunakan sebagai penggosok.
Beberapa contoh jenis paku ekor kuda yang masih hidup dan ditemukan di Indonesia, antara lain Equisetum aeniie, E. ramosissunum. Di Eropa E. arvense, E. pratense.
Warga suku ini banyak tumbuh dalam zaman Palaezoikum, teristimewa dalam zaman Karbon. Jenis tumbuhan dari suku ini mempunyai habitus yang sangat menyerupai paku ekor kuda sekarang, tetapi biasanya berbentuk pohon, jarang sekali berupa terna. Di antara pohon-pohon itu ada yang mencapai tinggi 30 m, dengan garis tengah batang 1 m dan cabang-cabang yang tersusun berkarang. Batang bersifat monopodial, sebagian gelam terdiri atas kulit mati (kerak). Pertumbuhan menebal sekunder berlangsung dengan perantaraan kambium. Dalam bagian kayu terdapat trakeida jala dan trakeida yang mempunyai noktah-noktah halaman. Dalam bagian kayu terdapat saluran udara, sehingga batang bersifat sepert pipa. Adanya saluran udara yang membujur dalam bagian kayu itu menyebabkan batang kurang kuat dan mudah patah. Akar yang keluar dari buku-buku batang dan dari rimpang juga mempunyai kambium.
Warga suku ini paling tua adalah Asterocalomites, mempunyai daun-daun kecil yang menggarpu. Biasanya daun-daun warga Asterocalomites berupa daun tunggal, mempunyai satu tulang daun, berbentuk lanset panjang dan tersusun berkarang. Daun-daun telah mencapai panjang sampai beberapa cm dan telah mempunyai jaringan tiang sebagai jaringan asimilasinya. Rangkaian sporofil mempunyai susunan yang sama dengan Equisetum, tetapi pada Calamitaceae terdapat daun-daun steril dan fertil berselang-selang. Di antara Calamitaceae ada yang isopor, ada pula yang heterospor, spora tidak mempunyai haptera.
Dari segi filogeni Calamitaceae dipandang lebih tua daripada Equisetaceae yang selalu isopor, akan tetapi anggapan itu sukar diterima, padahal umumnya orang beranggapan bahwa sifat heterospor adalah gejala yang lebih maju daripada sifat isopor dan bukan sebaliknya. Contoh-contoh jenis tumbuhan yang tergolong dalam suku Calamitaceae ialah Eucalamites multiramis, Calamostachys binneyana, Asterophyllites longifolus.
Tumbuhan dari bangsa ini hanya dikenal sebagai fosil dari zaman Palaezoikum. Daundaunnya menggarpu atau berbentuk pasak dengan tulang-tulang yang bercabang menggarpu, tersusun berkarang, dan tiap karangan biasanya terdiri dari 6 daun. Dari bangsa ini, warga yang filogenetik merupakan tumbuhan tertua mempunyai daun-daun yang tidak sama (heterofil). Pada warga Sphenophyllum terdapat daun-daun yang berbentuk pasak dan daun-daun kecil yang sempit yang menggarpu. Tumbuhan ini banyak tersebar dalam zaman Devon akhir sampai Perm, berupa terna yang rupa-rupanya dapat memanjat.
Batangnya mencapai tebal sejari, beruas-ruas panjang, bercabang-cabang, mempunyai satu berkas pengangkut yang tidak berteras dan mempunyai kambium. Dalam bagian kayu terdapat trakeida noktah halaman dan trakeida jala. Rangkaian sporofil menyerupai Equisetum, sebagian bersifat isopor sebagian heterospor. Contoh-contoh Sphenophyllum cuneifolium, S. dawsoni, S.fertile.
Warga bangsa ini pun telah fosil. Tumbuhan itu telah mulai muncul di atas bumi pada pertengahan zaman Devon. Di antaranya yang paling terkenal adalah anggota marga Rhynia, berupa semak-semak kecil yang bercabang-cabang menggarpu, daun-daunnya tersusun berkarang tidak beraturan. Helaian daun sempit, berbagi menggarpu. Sporofil tersusun dalam suatu bulir, tetapi sporofil itu belum berbentuk perisai, melainkan masih bercabang-cabang menggarpu tidak beraturan dengan sporangium yang bergantungan. Bangsa Protoarticulatales mencakup suku Rhyniaceae, yang anggota-anggotanya dipandang sebagai nenek moyang Sphenphyllaceae dan Calamitaceae. Contoh Rhynia elegans.
Equisetinae mencapai puncak perkembangannya dalam zaman Palaezoikum, yang hamper semuanya kemudian punah kecuali marga Equisetum yang masih kita kenal sampai sekarang. Jenisjenis tumbuhan dari marga Equisetum yang sekarang ada merupakan sisa dari warga Equisetum yang dahulu lebih banyak dan lebih meluas.
Dalam Mesozoikum dulu hidup jenis-jenis Equisetum yang telah memperlihatkan pertumbuhan menebal sekunder(mempunyai kambium). Beberapa golongan yang telah punah itu (Sphenophyllaceae, Calamitaceae), kebanyakan bersifat heterospor, akan tetapi belum pernah ada warga Equisetinae yang mencapai tingkat perkembangan sampai dapat menghasilkan biji seperti Lepidospermae. Nenek moyang Equisetinae mungkin sekali tumbuhan yang tergolong dalam Psilophytinae. Jadi Equisetinae dan Lycopodinae dapat sisamakan dengan dua cabang dengan perkembangan yang sejajar, keduanya berasal dari Psilophytinae, tetapi berbeda mikrofilnya. Di sana akan kita jumpai organ-organ khusus pembentuk spora. Spora dihasilkan dan dibentuk dalam suatu wadah yang disebut sebagai sporangium. Biasanya sporangium pada tumbuhan paku terkumpul pada permukaan bawah daun.











BAB III
PEMBAHASAN

Paku ekor kuda saat ini hanya tinggal sekitar 25 spesies dari satu genus, yaitu Equisetum. Equisetum terutama hidup pada habitat lembab di daerah subtropis. Equisetum yang tertinggi hanya mencapai 4,5 m sedangkan rata-rata tinggi Equisetum kurang dari 1 m. Equisetum memiliki akar, batang, dan daun sejati. Batangnya beruas dan pada setiap ruasnya dikelilingi daun kecil seperti sisik. Equisetum disebut paku ekor kuda karena bentuk batangnya seperti ekor kuda. Batangnya yang keras disebabkan dinding selnya mengandung silika. Sporangium terdapat pada strobilus. Sporangium menghasilkan satu jenis spora, sehingga Equisetum digolongkan pada tumbuhan paku peralihan. Gametofit Equisetum hanya berukuran beberapa milimeter tetapi dapat melakukan fotosintesis. Gametofitnya mengandung anteridium dan arkegonium sehingga merupakan gametofit biseksual.
 
1.      Ciri – Ciri Equistinae
Paku ekor kuda saat ini hanya tinggal sekitar 25 spesies dari satu genus, yaitu Equisetum. Tumbuhan yang bersifat tahunan, berukuran kecil dengan tinggi 0,2-1.5 m. Batang beruas-ruas dan tegak lurus berbentuk bulat.Tumbuhan ini tidak memiliki bunga, namun pada ujung batangnya terdapat suatu badan yang berbentuk gada atau kerucut. Hal inidisebabkan oleh sporofil yang mengumpul pada ujung batang, warga kelas ini yang sekarang masih hidup umumnya berupa terna (tumbuhan yang batangnya lunak karena tidak membentuk kayu).
a.     Batang
Tumbuhan ini mempunyai batang merayap dalam tanah yaitu semacam rizom dengan cabang-cabang yang tegak, biasanya bercabang-cabang yang tegak itu berumur satu tahun saja. Di dalam batang terdapat tiga macam saluran, yaitu:
  • Saluran pusat, merupakan saluran yang terletak di tengah-tengah batang. Tetapi pada batang yang masih muda saluran ini belum terdapat salurtan pusatnya, demikian juga pada batang yang ada di dalam tanah.
  • Saluran karnial, terletak di sebelah dalam dari ikatan pembuluh. Saluran ini merupakn lingkaran dan pada tiap-tiap saluran letaknya bertepatan denagn rigi-rigi pada permukaan batang.
  • Saluran valekular, saluran ini letaknya di dalam korteks yaitu di sebelah luar dan berseling dengan saluran karnial. Saluran pusat dan karnial berfungsi untuk penyimpanan air, sedang saluran valekuler berfungsi untuk menyimpan udara.
Pada buku-buku batangnya terdapat karangan daun yang hanya menyerupai sisik saja.
b.     Daun
Daunnya meruncing pada bagian ujungnya dengan satu berkas pengangkut yang kecil. Karangan daun kebawah berlekatan dengan suatu sarung yang menyelubungi batang. Banyaknya daun tergantung dari pada besarnya batang, tetapi karena daun-daun tersebut amat kecil maka yang berfungsi sebagai tempat berlangsungnya fotosintesis adalah batangnya yang berwarna hijau. Cabang-cabang batang tidak keluar dari ketiak daun melainkan keluar dari antara dun-daun. Ada jenis yang batangnya tidak bercabang dan baru bercabang apabila ujungnya dihilangkan. Jenis yang mempunyai percabangan banyak adalah jenis yang paling primitif, misalnya E.arvense, sebaliknya jenis yang tidak bercabang dianggap jenis yang sudah agak maju (Dasuki, 1991: 171).
c.      Akar
Akar dari Equisetum sangat kecil dan halus terdapat pada buku-buku dari rizome atau pada pangkal batang. Diantara anggota Equisetum terdapat beberapa jenis yang mempunyai semacam umbi untuk menghadapi kondisi yang buruk.
d.     Penyebaran dan  Habitat Tanaman Paku Ekor Kuda
.
Tumbuhan ini berasal dari Amerika Tropik Anggota-anggotanya dapat dijumpai di seluruh dunia kecuali Antartika. Habitat: Tumbuhan ini hidup pada tempat yang lembab, basah, danberpasir. Namun,ada sebagian yang hidup di darat dan di rawa-rawa.
Paku ekor kuda menyukai tanah yang basah, baik berpasir maupun berlempung, beberapa bahkan tumbuh di air (batang yang berongga membantu adaptasi pada lingkungan ini). E.arvense dapat tumbuh menjadi gulma di ladang karena
rimpangnya yang sangat dalam dan menyebar luas di tanah. Herbisida pun sering tidak berhasil mematikannya. Di Indonesia, rumput betung (E. debile) digunakan sebagai sikat untuk mencuci dan campuran obat.
Pada masa lalu, kira-kira pada zaman Karbonifer, paku ekor kuda purba dan kerabatnya (Calamites, dari divisio yang sama, sekarang sudah punah) mendominasi hutan-hutan di bumi. Beberapa spesies dapat tumbuh sangat besar, mencapai 30 m, seperti ditunjukkan pada fosil-fosil yang ditemukan pada deposit batu bara. Batu bara dianggap sebagai pengerasan sisa-sisa serasah dari hutan purba ini
e.      Sistem Reproduksi
Sistem reproduksi pada Equisetum ialah sporangiumnya terdapat pada sporangiosfor yang tidak lain adalah sporofil. Karena pendeknya ruas-ruas pendukung sporofil maka rangkaian tersebut menyerupai suatu kerucut di ujung batang. Sporofil atau sporangiosfor berbentuk perisai dengan satu kaki di tengah dan beberapa sporangium (5-10) berbentuk kantung pada sisi bawah. Spoeangium berasal dari sebuah sel pada permukaan, karena pertumbuhan dari jaringan tengah sporangia terdesak ke bawah sehingga akhirnya terdapat pada sisi bawah dan mengelilingi tangkai.
Spora mempunyai dinding yang terdiri atas endo dan eksosoprangium, dan disamping itu masih mempunyai perisporium yang berlapis-lapis. Lapisan perisporium yang paling luar terdiri atas dua pita sejajar yang dalam keadaan basah membalut spora. Pita itu ujungnya agak melebar meperti lidah. Jika spora menjadi kering, pita itu terlepas dari gulungannya, akan tetapi di tengah-tengahnya tetap melekat pada eksosporium. Dengan adanya pita atau yang dinamakan kepala kaptera yang memperlihatkan gerakan higioskopik itu.
Strobili biasanya panjangnya sekitar 2 sampai 4 cm (0,75 sampai 1,5 inci). Berbentuk heksagonal, seperti piring dovetailing pada permukaan srobilus yang memberikan tampilan dari permukaan berbentuk elips. Segi enam masing-masing menandai puncak sporangiospore yang memiliki pemanjangan 5 sampai 10 sporangia yang saling terhubung. Batang dari sporangiophores melekat pada poros tengah dari strobilus. Sporangia mengelilingi tangkai sporangiophore dan berada titik ke dalam. sporangia ini tersembunyi tidak terlihat sampai jatuh apabila sporangiophores terpisah sedikit. Spora ini akan dilepaskan.
f.  Siklus Hidup
Siklus hidup dari Equisetum terdiri dari tahap sporofit dan gametofit. Pada tahap sporofit, tunas fertil yang didalamnya terdapat strobilus dan si dalam strobilus terdapat kantung-kantung sporangiospore yang nantinya akan mengeluarkan spora dari sporangium. Selanjutnya terjadi tahap meiosis untuk memproduksi spora dan berkembang menjadi Rhizoid. Pada Rhizoid nanti akan menghasilkan gamet jantan dan gamet betina. Gamet jantan (sperm) dihasilkan oleh Antheridium, sedangkan gamet betina (sel telur) dihasilkan oleh Archegonium. Pada tempat yang cocok keduanya akan bersatu ( fertilisasi) dan tumbuh menjadi zigot yang merupakan gametofit dan berkembang menjadi tunas yang vegetatif. Gambar dari silkus hidup Equisetum ialah sebagai berikut:
2.  Bangsa Equistinae
Equisetinae dibedakan dalam beberapa bangsa antar lain :
a.  Bangsa Equisetales
Tumbuhan ini sebagian hidup di darat, sebagian di rawa-rawa. Didalam tanah tumbuhan ini mempunyai semacam rimpang yang merayap, dengan cabang yang berdiri tegak. Pada penampang, melintang batang mempunnyai satu lingkaran berkas-berkas perangkat kolateral, dua lingkaran saluran-saluran antar sel. Berkas dalam sporofil mempunyai susunan konsentris.
Pada buku-buku batang terdapat satu karangan daun berkas pengangkut yang kecil. Cabang-cabang tidak keluar dari ketiak daun melainkan di antara daun-daun dan menembus sarung keluar karena daun amat kecil. Batang dan cabang-cabangnya yang mempunyai fungsi sebagai assimilator,tampak bewarna hijau karna mengandung klorofil.Di antara warga Equiseiales terdapat beberapa jenis yang mempunai semacam umbi untuk menghadapi kala yang buruk, ada pula yang berwana hijau.
Sforofil tersusun dalam rangkaian yang berseling, dan karena pendekatanya ruas-ruas pendukung sporofil maka rangkaian sporofil terkumpul menyerupai satu kerucut pada ujung batang.
Jaringan sporogen mila-mula di liputi oleh didnding yang terdiri atas beberapa lapisan sel.Dinding sel-sel dalam (tapetum)terlarut, plasmanya merupkan peripplasmodium yang masuk di antara spora-spora, dan habis terpakai untuk pembentukan dindingspora.Sel-selnya mempunyai penebalan berbentuk spiral atau cincin.Sporagium  yang telah masak pecah menurut satu retak pada bagian dinding yang menghadap ke dalam.Retak itu terjadi karena pengaruh kekuatan kohesi air yang menguap dan berkerutnya dinding sel yang tipis pada waktu mongering.
Spora mempunyai diding terdiri atas endo dan eksosporium, dan  Lapisan perisporium yang paling luar terdiri atas dua pita sejajar yang dalam keadaan basah melalui spora.Jika spora menjadi kering pita itu terlepas dari gulunganya.
Pada perkecambahan spora,rizoid keluar dari bagian yang tidak menghadap sinar matahari.Sel-sel lainya yang berkembang terus menjadi bagian protalium yang bewarna hijau . Zigot mula mula membelah menjadi dua sel tetapi berlawanan dengan Lycopodium,pada Equasatales tidak berbentuk supersor.Embrio pada Equissetales letaknya eksoskopi,tunas mempunyai sel ujung berbentu piramid. Bakal akar terletak di bagian samping sumbu panjangnya.
b. Bangsa Sphenophyllales
Tumbuhan dari bangsa ini hanya dikenal sebagai fosil dari zamanPalaezoikum. Daun – daunnya menggarpu atau berbentuk pasak dengan tulang – tulang yang bercabang menggarpu, tersusun berkarang, dan tiap karangan biasanya terdiri dari 6 daun. Dari bangsa ini, warga yang filogenetik merupakan tumbuhan tertua mempunyai daun-daun yang tidak sama (heterofil). Pada warga Sphenophyllum terdapat daun-daun yang berbentuk pasak dan daun-daun kecil yang sempit yang menggarpu.Tumbuhan ini banyak tersebar dalam zaman Devon akhir sampai Perm, berupa terna yang rupa-rupanya dapat memanjat.Batangnya mencapai tebal sejari, beruas-ruas panjang, bercabang-cabang,mempunyai satu berkas pengangkut yang tidak berteras dan mempunyaikambium. Dalam bagian kayu terdapat trakeida noktah halaman dantrakeida jala. Rangkaian sporofil menyerupai Equisetum, sebagian bersifat isopor () sebagian heterospor ().
c.       Bangsa Protoarticulatales
Warga bangsa ini pun telah fosil. Tumbuhan itu telah mulai muncul diatas bumi pada pertengahan zaman Devon. Di antaranya yang palingterkenal adalah anggota marga Rhynia, berupa semak-semak kecil yang bercabang-cabang menggarpu, daun-daunnya tersusun berkarang tidak  beraturan. Helaian daun sempit, berbagi menggarpu. Sporofil tersusun dalam suatu bulir, tetapi sporofil itu belum berbentuk perisai, melainkan masih bercabang-cabang menggarpu tidak beraturan dengan sporangium yang bergantungan. Bangsa Protoarticulatales mencakup sukuRhyniaceae yang anggota – anggotanya dipandang sebagai nenek moyang Sphenphyllaceae.
3.      Manfaat Equistinae Dalam Kehidupan
Seperti pada tumbuhan paku lainnya, jenis paku ekor kuda juga dikenal karena kegunaannya sebagai obat. Di Indonesia batang paku ekor kuda ini digunakan sebagai obat sakit otot atau sakit tulang dengan cara membuatnya sebagai param. Disamping sebagai obat, tumbuhan ini mempunyai keistimewaan yang tidak dijumpai pada jenis paku lainnya, yaitu sebagai alat pembersih pisau, garpu dan sendok.



BAB IV
KESIMPULAN

Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa :
  1. Cici – ciri dari Equistinae adalah Tumbuhan yang bersifat tahunan, berukuran kecil dengan tinggi 0,2-1.5 m. Batang beruas-ruas dan tegak lurus berbentuk bulat.Tumbuhan ini tidak memiliki bunga, namun pada ujung batangnya terdapat suatu badan yang berbentuk gada atau kerucut.
  2. Bangsa dari Equistinae antara lain : bangsa Equisetales,  bangsa Sphenophyllales,  dan bangsa Protoarticulatales.
  3. Equistinae dalam kehidupan sehari – hari dapat dimanfaatkan sebagai obat dan sebagai alat pembersih pisau, garpu dan sendok.
  4. Tumbuhan ini mempunyai batang merayap dalam tanah yaitu semacam rizom dengan cabang-cabang yang tegak
  5. Batangnya yang keras disebabkan dinding selnya mengandung silika. Sporangium terdapat pada strobilus























DAFTAR PUSTAKA


Anonim. 2006. Taksonomi Tumbuhan Sphenophyta . Medan : USU E-Learning.

Cecep, Ahmad.2010. Pterydophyta (Tumbuhan Paku). Bandung : Rineka Cipta.

Sharma, 2002. Taksonomi Tumbuhan 1. Jakarta : EGC.

Sutrisna,Putu.2011. Klasifikasi Tumbuhan Sphenophyta. Bandung : Raja Grafindo Persada.

Tjitrosoepomo. 1989. Taksonomi Tumbuhan Sphenophyta, Pteridophyhta. Yogyakarta : UGM

0 Responses

Posting Komentar