Equistinae
( Laporan Praktikum Pterydologi)
( Laporan Praktikum Pterydologi)
Oleh
Nori Irawati
1117021037
Nori Irawati
1117021037
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAUAN ALAM
UNIVERSITAS LAMPUNG
2013
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAUAN ALAM
UNIVERSITAS LAMPUNG
2013
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Tumbuhan paku merupakan tumbuhan berkormus dan berpembuluh yang paling
sederhana. Terdapat lapisan pelindung sel (jaket steril) di sekeliling organ
reproduksi, sistem transpor internal, hidup di tempat yang lembap. Akar serabut
berupa rizoma, ujung akar dilindungi kaliptra. Sel-sel akar membentuk
epidermis, korteks, dan silinder pusat (terdapat xilem dan fleom).
Beradasarkan bentuk dan ukurannya susunannya daun tumbuhan paku dibedakan
menjadi mikrofil dan makrofil. Mikrofil bentuk kecil atau bersisik, tidak
bertangkai, tidak bertulang daun, belum memperlihatkan diferensiasi sel.
Makrofil daun besar, bertangkai, bertulang daun, bercabang-cabang, sel telah
terdiferensiasi. Berdasarkan fungsinya daun tumbuhan paku dibedakan menjadi
tropofil dan sporofil. Tropofil merupakan daun yang khusus untuk asimilasi atau
fotosintesis. Sporofil berfungsi untuk menghasilkan spora. Spora tumbuhan paku
dibentuk dalam kotak spora (sporangium). Kumpulan sporangium disebut sorus.
Sorus muda sering dilindungi oleh selaput yang disebut indusium. Berdasarkan
macam spora yang dihasilkan tumbuhan paku dibedakan menjadi tiga yaitu paku
homospora (isospora), paku heterospora dan paku peralihan. Paku homospora
menghasilkan satu jenis spora (ex Lycopodium/paku kawat). Paku heterospora
menghasilkan dua jenis spora yang berlainan yaitu megaspora (ukuran besar) dan
mikrospora (ukuran kecil) (ex Marsilea/semanggi dan Selaginella/paku rane).
Paku peralihan merupakan peralihan antara homospora dan heterospora
menghasilkan spora pbentuk dan ukurannya sama tetapi berbeda jenis kelamin (ex
Equisetum debile/paku ekor kuda). Tumbuhan paku bereproduksi secara aseksual
(vegetatif) dengan stolon yang menghasilkan gemma (tunas). Gemma adalah anakan
pada tulang daun atau kaki daun yang mengandung spora. Reproduksi seksual
(generatif) melalui pembentukan sel kelamin jantan/spermatozoid (gametangium
jantan/anteridium) dan sel kelamin betina/ovum (gametangium betina/arkegonium).
Seperti pada lumut tumbuhan paku juga mengalami pergiliran
keturunan/metagenesis. Metagenesis tersebut dibedakan antara paku homospora dan
heterospora.Tumbuhan paku dibedakan menjadi empat kelompok yaitu Psilotophyta,
Lycophyta, Sphenophyta, dan Pterophyta. Psilotophyta mempunyai dua genera (ex Psilotum
sp). Psilotum sp tersebar luas di daerah tropik dan subtropik, mempunyai
ranting dikotom, tidak memiliki akar dan daun, pengganti akar berupa rizoma
diselubungi rambut-rambut yang dikenal rizoid.Lycophyta contohnya Lycopodium sp
dan Selaginella sp. Lycopodium sp sporanya dalam sporofit daun khusus untuk
reproduksi dan dapat bertahan dalam tanah selama 9 tahun, dapat menghasilkan
spora tunggal yang berkembang menjadi gametofit biseksual (memiliki baik organ
jantan dan betina), jenis homospora. Selaginella sp merupakan tanaman
heterospora, menghasilkan dua jenis spora (megaspora/gamet betina dan
mikrospora/gamet jantan). Sphenophyta sering disebut paku ekor kuda, bersifat
homospora, mempunyai akar; batang; daun sejati, batangnya keras karena dinding
sel mengandung silika. Contohnya Equisetum debile (paku ekor kuda).Pterophyta
(paku sejati) umumnya tumbuh di darat pada daerah tropis dan subtropis. Daunnya
besar, daun muda menggulung. Sporangium terdapat pada sporofil (daun penghasil
spora). Contohnya: Adiantum cuncatum (paku suplir untuk hiasan), Marsilea
crenata (semanggi untuk sayuran), Asplenium nidus (paku sarang burung),
Pletycerium bifurcatum (paku tanduk rusa).
B. Tujuan
- Untuk mengetahui cirri-ciri dari Equestinae.
- Untuk mengetahui bangsa dari Equestinae.
- Untuk mengetahui manfaat dari Equestinae dalam kehidupan sehari – hari.
TINJAUAN PUSTAKA
sebagian di
darat, sebagian di rawa-rawa. Memiliki semacam rimpang yang merayap, dengan
cabang yang berdiri tegak. Pada buku-buku batang terdapat suatu karangan daun
serupa selaput atau sisik, berbentuk runcing, mempunyai satu berkas pengangkut
kecil. Karena daun amat kecil, batang dan cabang-cabangnya yang mempunyai
fungsi sebagai asimilator, tampak berwarna hijau karena mengandung klorofil. Di
antara warga Equisetales terdapat beberapa jenis yang mempunyai semacam umbi
untuk menghadapi kala yang buruk, ada pula yang tetap berwarna hijau.
Sporofil
tersusun dalam rangkaian yang berseling, dan karena pendeknya ruas-ruas
pendukung sporofil, maka rangkaian sporofil terkumpul menyerupai suatu kerucut
pada ujung batang. Sporofil berbentuk perisai atau meja dengan satu kaki di
tengah, dengan beberapa sporangium (5-10) berbentuk kantung pada sisi bawahnya.
Jaringan
sporogen mula-mula diliputi oleh dinding yang terdiri atas beberapa lapis sel.
Seperti biasanya, dinding sel-sel dalam (tupetum) terlarut, plasmanya merupakan
periplasmodium yang masuk di antara spora-spora, dan habis terpakai untuk
pembentrukan dinding spora. Jika spora telah masak, sporangium hanya mempunyai
dinding yang terdiri atas selapis sel saja. Sel-selnya mempunyai penebalan
berbentuk spiral atau cincin. Sporangium yang telah masak pecah menurut suatu
retak pada bagian dinding yang menghadap ke dalam. Retak itu terjadi karena
pengaruh kekutan kohesi air yang menguap dan berkerutnya dinding sel yang tipis
pada waktu mengering.
Spora
mempunyai dinding yang terdiri atas endo- dan eksosporium, dan di samping itu
masih mempunyai perisporium yang berlapis-lapis. Lapisan perisporium yang
paling luar terdiri atas dua pita sejajar yang dalam keadaan basah membalut
spora. Pita itu ujungnya agak melebar seperti lidah . Jika spora menjadi
kering, pita itu terlepas dari gulungannya, akan tetepi kurang lebih di
tengah-tengahnya tetap melekat pada eksosporium. Dengan adanya pita yang
memperlihatkan gerakan higroskopik itu, pemencaran spora di permudah, dan itu
kemungkinan adanya beberapa spora yang selalu bergandeng-gandengan amatlah
besar, dan bila spora dan jatuh di tempat yang amatlah besar, dan bila spora •
dan • jatuh di tempat yang berdekatan, tentulah dalam perkembangan selanjutnya
protalium • akan berdekatan pula dengan protalium •. Pada perkecambahan spora,
rhizoid keluar dari bagian yang tidak menghadap sinar matahari.
Sel-sel lainnya berkembang terus menjadi bagian
protalium yang berwarna hijau. Protalium berupa talus yang bercabang-cabang,
dapat berumah satu, tetapi biasanya berumah dua. Anteridium terbenam dalam
protalium • dan mengeluarkan spermatozoid berbentuk sekrup dengan banyak bulu
cambuk.
Zigot
mula-mula membelah menjadi dua sel, tetapi berlainan dengan Lycopodium, pada
Equisetales tidak terbentuk suspensor, melainkan kedua sel itu membelah-belah
lagi. Embrio pada Equisetales letaknya eksokopik, tunas mempunyai sel ujung
bentuk piramid. Bakal akar terletak di bagian samping sumbu panjangnya.
Beberapa
jenis tumbuhan ini mempunyai sebagian batang yang tetap steril dan banyak
bercabangcabang, dan cabang-cabang itu tersusun dalam karangan. Sel-sel
epidermis batang mengandung zat kersik pada dinding yang sebelah luar, oleh
sebab itu abu batang tumbuhan ini dapat digunakan sebagai penggosok.
Beberapa contoh jenis paku ekor kuda yang masih hidup
dan ditemukan di Indonesia, antara lain Equisetum aeniie, E. ramosissunum. Di
Eropa E. arvense, E. pratense.
Warga suku ini banyak tumbuh dalam zaman Palaezoikum,
teristimewa dalam zaman Karbon. Jenis tumbuhan dari suku ini mempunyai habitus
yang sangat menyerupai paku ekor kuda sekarang, tetapi biasanya berbentuk
pohon, jarang sekali berupa terna. Di antara pohon-pohon itu ada yang mencapai
tinggi 30 m, dengan garis tengah batang 1 m dan cabang-cabang yang tersusun
berkarang. Batang bersifat monopodial, sebagian gelam terdiri atas kulit mati
(kerak). Pertumbuhan menebal sekunder berlangsung dengan perantaraan kambium.
Dalam bagian kayu terdapat trakeida jala dan trakeida yang mempunyai
noktah-noktah halaman. Dalam bagian kayu terdapat saluran udara, sehingga
batang bersifat sepert pipa. Adanya saluran udara yang membujur dalam bagian
kayu itu menyebabkan batang kurang kuat dan mudah patah. Akar yang keluar dari
buku-buku batang dan dari rimpang juga mempunyai kambium.
Warga suku ini paling tua adalah Asterocalomites,
mempunyai daun-daun kecil yang menggarpu. Biasanya daun-daun warga
Asterocalomites berupa daun tunggal, mempunyai satu tulang daun, berbentuk
lanset panjang dan tersusun berkarang. Daun-daun telah mencapai panjang sampai
beberapa cm dan telah mempunyai jaringan tiang sebagai jaringan asimilasinya.
Rangkaian sporofil mempunyai susunan yang sama dengan Equisetum, tetapi pada
Calamitaceae terdapat daun-daun steril dan fertil berselang-selang. Di antara
Calamitaceae ada yang isopor, ada pula yang heterospor, spora tidak mempunyai
haptera.
Dari segi filogeni Calamitaceae dipandang lebih tua
daripada Equisetaceae yang selalu isopor, akan tetapi anggapan itu sukar
diterima, padahal umumnya orang beranggapan bahwa sifat heterospor adalah
gejala yang lebih maju daripada sifat isopor dan bukan sebaliknya.
Contoh-contoh jenis tumbuhan yang tergolong dalam suku Calamitaceae ialah
Eucalamites multiramis, Calamostachys binneyana, Asterophyllites longifolus.
Tumbuhan dari bangsa ini hanya dikenal sebagai fosil
dari zaman Palaezoikum. Daundaunnya menggarpu atau berbentuk pasak dengan
tulang-tulang yang bercabang menggarpu, tersusun berkarang, dan tiap karangan
biasanya terdiri dari 6 daun. Dari bangsa ini, warga yang filogenetik merupakan
tumbuhan tertua mempunyai daun-daun yang tidak sama (heterofil). Pada warga
Sphenophyllum terdapat daun-daun yang berbentuk pasak dan daun-daun kecil yang
sempit yang menggarpu. Tumbuhan ini banyak tersebar dalam zaman Devon akhir
sampai Perm, berupa terna yang rupa-rupanya dapat memanjat.
Batangnya mencapai tebal sejari, beruas-ruas panjang,
bercabang-cabang, mempunyai satu berkas pengangkut yang tidak berteras dan
mempunyai kambium. Dalam bagian kayu terdapat trakeida noktah halaman dan
trakeida jala. Rangkaian sporofil menyerupai Equisetum, sebagian bersifat
isopor sebagian heterospor. Contoh-contoh Sphenophyllum cuneifolium, S.
dawsoni, S.fertile.
Warga bangsa ini pun telah fosil. Tumbuhan itu telah
mulai muncul di atas bumi pada pertengahan zaman Devon. Di antaranya yang
paling terkenal adalah anggota marga Rhynia, berupa semak-semak kecil yang
bercabang-cabang menggarpu, daun-daunnya tersusun berkarang tidak beraturan.
Helaian daun sempit, berbagi menggarpu. Sporofil tersusun dalam suatu bulir,
tetapi sporofil itu belum berbentuk perisai, melainkan masih bercabang-cabang
menggarpu tidak beraturan dengan sporangium yang bergantungan. Bangsa
Protoarticulatales mencakup suku Rhyniaceae, yang anggota-anggotanya dipandang
sebagai nenek moyang Sphenphyllaceae dan Calamitaceae. Contoh Rhynia elegans.
Equisetinae mencapai puncak perkembangannya dalam
zaman Palaezoikum, yang hamper semuanya kemudian punah kecuali marga Equisetum
yang masih kita kenal sampai sekarang. Jenisjenis tumbuhan dari marga Equisetum
yang sekarang ada merupakan sisa dari warga Equisetum yang dahulu lebih banyak
dan lebih meluas.
Dalam Mesozoikum dulu hidup jenis-jenis Equisetum yang
telah memperlihatkan pertumbuhan menebal sekunder(mempunyai kambium). Beberapa
golongan yang telah punah itu (Sphenophyllaceae, Calamitaceae), kebanyakan
bersifat heterospor, akan tetapi belum pernah ada warga Equisetinae yang
mencapai tingkat perkembangan sampai dapat menghasilkan biji seperti
Lepidospermae. Nenek moyang Equisetinae mungkin sekali tumbuhan yang tergolong
dalam Psilophytinae. Jadi Equisetinae dan Lycopodinae dapat sisamakan dengan
dua cabang dengan perkembangan yang sejajar, keduanya berasal dari
Psilophytinae, tetapi berbeda mikrofilnya. Di sana akan kita jumpai organ-organ
khusus pembentuk spora. Spora dihasilkan dan dibentuk dalam suatu wadah
yang disebut sebagai sporangium. Biasanya sporangium pada tumbuhan
paku terkumpul pada permukaan bawah daun.
BAB III
PEMBAHASAN
Paku ekor kuda saat ini hanya
tinggal sekitar 25 spesies dari satu genus, yaitu Equisetum. Equisetum
terutama hidup pada habitat lembab di daerah subtropis. Equisetum yang
tertinggi hanya mencapai 4,5 m sedangkan rata-rata tinggi Equisetum kurang
dari 1 m. Equisetum memiliki akar, batang, dan daun sejati. Batangnya
beruas dan pada setiap ruasnya dikelilingi daun kecil seperti sisik. Equisetum
disebut paku ekor kuda karena bentuk batangnya seperti ekor kuda. Batangnya
yang keras disebabkan dinding selnya mengandung silika. Sporangium terdapat
pada strobilus. Sporangium menghasilkan satu jenis spora, sehingga Equisetum
digolongkan pada tumbuhan paku peralihan. Gametofit Equisetum hanya
berukuran beberapa milimeter tetapi dapat melakukan fotosintesis. Gametofitnya
mengandung anteridium dan arkegonium sehingga merupakan gametofit biseksual.


1. Ciri – Ciri
Equistinae
Paku ekor kuda saat ini hanya tinggal sekitar 25 spesies dari satu genus,
yaitu Equisetum. Tumbuhan yang bersifat tahunan, berukuran kecil
dengan tinggi 0,2-1.5 m. Batang beruas-ruas dan tegak lurus berbentuk
bulat.Tumbuhan ini tidak memiliki bunga, namun pada ujung batangnya terdapat
suatu badan yang berbentuk gada atau kerucut. Hal inidisebabkan oleh sporofil
yang mengumpul pada ujung batang, warga kelas ini yang sekarang masih hidup
umumnya berupa terna (tumbuhan yang batangnya lunak karena tidak membentuk
kayu).
a. Batang
Tumbuhan ini mempunyai batang merayap dalam tanah yaitu semacam rizom
dengan cabang-cabang yang tegak, biasanya bercabang-cabang yang tegak itu
berumur satu tahun saja. Di dalam batang terdapat tiga macam saluran, yaitu:
- Saluran pusat, merupakan saluran yang terletak di tengah-tengah batang. Tetapi pada batang yang masih muda saluran ini belum terdapat salurtan pusatnya, demikian juga pada batang yang ada di dalam tanah.
- Saluran karnial, terletak di sebelah dalam dari ikatan pembuluh. Saluran ini merupakn lingkaran dan pada tiap-tiap saluran letaknya bertepatan denagn rigi-rigi pada permukaan batang.
- Saluran valekular, saluran ini letaknya di dalam korteks yaitu di sebelah luar dan berseling dengan saluran karnial. Saluran pusat dan karnial berfungsi untuk penyimpanan air, sedang saluran valekuler berfungsi untuk menyimpan udara.
Pada buku-buku batangnya terdapat karangan daun yang hanya menyerupai sisik
saja.
b. Daun
Daunnya meruncing pada bagian ujungnya dengan satu berkas pengangkut yang
kecil. Karangan daun kebawah berlekatan dengan suatu sarung yang menyelubungi
batang. Banyaknya daun tergantung dari pada besarnya batang, tetapi karena
daun-daun tersebut amat kecil maka yang berfungsi sebagai tempat berlangsungnya
fotosintesis adalah batangnya yang berwarna hijau. Cabang-cabang batang tidak
keluar dari ketiak daun melainkan keluar dari antara dun-daun. Ada jenis yang
batangnya tidak bercabang dan baru bercabang apabila ujungnya dihilangkan.
Jenis yang mempunyai percabangan banyak adalah jenis yang paling primitif,
misalnya E.arvense, sebaliknya jenis yang tidak bercabang dianggap jenis
yang sudah agak maju (Dasuki, 1991: 171).
c. Akar
Akar dari Equisetum sangat kecil dan halus terdapat pada buku-buku dari
rizome atau pada pangkal batang. Diantara anggota Equisetum terdapat beberapa
jenis yang mempunyai semacam umbi untuk menghadapi kondisi yang buruk.
d.
Penyebaran dan Habitat Tanaman Paku Ekor
Kuda
.
Tumbuhan ini
berasal dari Amerika Tropik Anggota-anggotanya dapat dijumpai di seluruh dunia
kecuali Antartika. Habitat: Tumbuhan ini hidup pada tempat yang lembab, basah,
danberpasir. Namun,ada sebagian yang hidup di darat dan di rawa-rawa.
Paku ekor kuda menyukai tanah yang basah, baik berpasir maupun berlempung, beberapa bahkan tumbuh di air (batang yang berongga membantu adaptasi pada lingkungan ini). E.arvense dapat tumbuh menjadi gulma di ladang karena rimpangnya yang sangat dalam dan menyebar luas di tanah. Herbisida pun sering tidak berhasil mematikannya. Di Indonesia, rumput betung (E. debile) digunakan sebagai sikat untuk mencuci dan campuran obat.
Paku ekor kuda menyukai tanah yang basah, baik berpasir maupun berlempung, beberapa bahkan tumbuh di air (batang yang berongga membantu adaptasi pada lingkungan ini). E.arvense dapat tumbuh menjadi gulma di ladang karena rimpangnya yang sangat dalam dan menyebar luas di tanah. Herbisida pun sering tidak berhasil mematikannya. Di Indonesia, rumput betung (E. debile) digunakan sebagai sikat untuk mencuci dan campuran obat.
Pada masa lalu, kira-kira pada zaman Karbonifer, paku ekor
kuda purba dan kerabatnya (Calamites, dari divisio yang sama, sekarang
sudah punah) mendominasi hutan-hutan di bumi. Beberapa spesies dapat tumbuh
sangat besar, mencapai 30 m, seperti ditunjukkan pada fosil-fosil yang
ditemukan pada deposit batu bara. Batu bara dianggap sebagai pengerasan sisa-sisa
serasah dari hutan purba ini
e. Sistem Reproduksi
Sistem reproduksi pada Equisetum ialah sporangiumnya terdapat pada
sporangiosfor yang tidak lain adalah sporofil. Karena pendeknya ruas-ruas
pendukung sporofil maka rangkaian tersebut menyerupai suatu kerucut di ujung
batang. Sporofil atau sporangiosfor berbentuk perisai dengan satu kaki di
tengah dan beberapa sporangium (5-10) berbentuk kantung pada sisi bawah.
Spoeangium berasal dari sebuah sel pada permukaan, karena pertumbuhan dari
jaringan tengah sporangia terdesak ke bawah sehingga akhirnya terdapat pada
sisi bawah dan mengelilingi tangkai.
Spora mempunyai dinding yang terdiri atas endo dan eksosoprangium, dan
disamping itu masih mempunyai perisporium yang berlapis-lapis. Lapisan
perisporium yang paling luar terdiri atas dua pita sejajar yang dalam keadaan
basah membalut spora. Pita itu ujungnya agak melebar meperti lidah. Jika spora
menjadi kering, pita itu terlepas dari gulungannya, akan tetapi di
tengah-tengahnya tetap melekat pada eksosporium. Dengan adanya pita atau yang
dinamakan kepala kaptera yang memperlihatkan gerakan higioskopik itu.
Strobili biasanya panjangnya sekitar 2 sampai 4 cm (0,75 sampai 1,5 inci).
Berbentuk heksagonal, seperti piring dovetailing pada permukaan srobilus yang
memberikan tampilan dari permukaan berbentuk elips. Segi enam masing-masing
menandai puncak sporangiospore yang memiliki pemanjangan 5 sampai 10 sporangia
yang saling terhubung. Batang dari sporangiophores melekat pada poros tengah
dari strobilus. Sporangia mengelilingi tangkai sporangiophore dan berada titik
ke dalam. sporangia ini tersembunyi tidak terlihat sampai jatuh apabila
sporangiophores terpisah sedikit. Spora ini akan dilepaskan.
f. Siklus Hidup
Siklus hidup dari Equisetum terdiri dari tahap sporofit dan gametofit. Pada
tahap sporofit, tunas fertil yang didalamnya terdapat strobilus dan si dalam
strobilus terdapat kantung-kantung sporangiospore yang nantinya akan
mengeluarkan spora dari sporangium. Selanjutnya terjadi tahap meiosis untuk
memproduksi spora dan berkembang menjadi Rhizoid. Pada Rhizoid nanti akan
menghasilkan gamet jantan dan gamet betina. Gamet jantan (sperm) dihasilkan
oleh Antheridium, sedangkan gamet betina (sel telur) dihasilkan oleh
Archegonium. Pada tempat yang cocok keduanya akan bersatu ( fertilisasi) dan
tumbuh menjadi zigot yang merupakan gametofit dan berkembang menjadi tunas yang
vegetatif. Gambar dari silkus hidup Equisetum ialah sebagai berikut:
2. Bangsa Equistinae
Equisetinae dibedakan dalam beberapa bangsa
antar lain :
a. Bangsa Equisetales
Tumbuhan ini sebagian hidup di darat, sebagian di rawa-rawa. Didalam tanah
tumbuhan ini mempunyai semacam rimpang yang merayap, dengan cabang yang berdiri
tegak. Pada penampang, melintang batang mempunnyai satu lingkaran berkas-berkas
perangkat kolateral, dua lingkaran saluran-saluran antar sel. Berkas dalam
sporofil mempunyai susunan konsentris.
Pada buku-buku batang terdapat satu karangan daun berkas pengangkut yang
kecil. Cabang-cabang tidak keluar dari ketiak daun melainkan di antara
daun-daun dan menembus sarung keluar karena daun amat kecil. Batang dan
cabang-cabangnya yang mempunyai fungsi sebagai assimilator,tampak bewarna hijau
karna mengandung klorofil.Di antara warga Equiseiales terdapat beberapa jenis
yang mempunai semacam umbi untuk menghadapi kala yang buruk, ada pula yang
berwana hijau.
Sforofil tersusun dalam rangkaian yang berseling, dan karena pendekatanya
ruas-ruas pendukung sporofil maka rangkaian sporofil terkumpul menyerupai satu
kerucut pada ujung batang.
Jaringan sporogen mila-mula di liputi oleh didnding yang terdiri atas
beberapa lapisan sel.Dinding sel-sel dalam (tapetum)terlarut, plasmanya merupkan
peripplasmodium yang masuk di antara spora-spora, dan habis terpakai untuk
pembentukan dindingspora.Sel-selnya mempunyai penebalan berbentuk spiral atau
cincin.Sporagium yang telah masak pecah menurut satu retak pada bagian
dinding yang menghadap ke dalam.Retak itu terjadi karena pengaruh kekuatan
kohesi air yang menguap dan berkerutnya dinding sel yang tipis pada waktu
mongering.
Spora mempunyai diding terdiri atas endo dan eksosporium, dan Lapisan
perisporium yang paling luar terdiri atas dua pita sejajar yang dalam keadaan
basah melalui spora.Jika spora menjadi kering pita itu terlepas dari
gulunganya.
Pada perkecambahan spora,rizoid keluar dari bagian yang tidak menghadap
sinar matahari.Sel-sel lainya yang berkembang terus menjadi bagian protalium
yang bewarna hijau . Zigot mula mula membelah menjadi dua sel tetapi berlawanan
dengan Lycopodium,pada Equasatales tidak berbentuk supersor.Embrio pada
Equissetales letaknya eksoskopi,tunas mempunyai sel ujung berbentu piramid.
Bakal akar terletak di bagian samping sumbu panjangnya.
b. Bangsa Sphenophyllales
Tumbuhan dari bangsa ini hanya dikenal sebagai fosil dari zamanPalaezoikum.
Daun – daunnya menggarpu atau berbentuk pasak dengan tulang – tulang yang
bercabang menggarpu, tersusun berkarang, dan tiap karangan biasanya terdiri
dari 6 daun. Dari bangsa ini, warga yang filogenetik merupakan tumbuhan tertua
mempunyai daun-daun yang tidak sama (heterofil). Pada warga Sphenophyllum
terdapat daun-daun yang berbentuk pasak dan daun-daun kecil yang sempit yang
menggarpu.Tumbuhan ini banyak tersebar dalam zaman Devon akhir sampai
Perm, berupa terna yang rupa-rupanya dapat memanjat.Batangnya mencapai
tebal sejari, beruas-ruas panjang, bercabang-cabang,mempunyai satu berkas
pengangkut yang tidak berteras dan mempunyaikambium. Dalam bagian kayu terdapat
trakeida noktah halaman dantrakeida jala. Rangkaian sporofil menyerupai
Equisetum, sebagian bersifat isopor () sebagian heterospor ().
c. Bangsa
Protoarticulatales
Warga bangsa ini pun telah fosil. Tumbuhan itu telah mulai muncul diatas
bumi pada pertengahan zaman Devon. Di antaranya yang palingterkenal adalah
anggota marga Rhynia, berupa semak-semak kecil yang bercabang-cabang
menggarpu, daun-daunnya tersusun berkarang tidak beraturan. Helaian
daun sempit, berbagi menggarpu. Sporofil tersusun dalam suatu bulir, tetapi
sporofil itu belum berbentuk perisai, melainkan masih bercabang-cabang
menggarpu tidak beraturan dengan sporangium yang bergantungan.
Bangsa Protoarticulatales mencakup sukuRhyniaceae yang anggota –
anggotanya dipandang sebagai nenek moyang Sphenphyllaceae.
3. Manfaat Equistinae
Dalam Kehidupan
Seperti pada tumbuhan paku lainnya, jenis paku ekor kuda juga dikenal
karena kegunaannya sebagai obat. Di Indonesia batang paku ekor kuda ini digunakan
sebagai obat sakit otot atau sakit tulang dengan cara membuatnya sebagai param.
Disamping sebagai obat, tumbuhan ini mempunyai keistimewaan yang tidak dijumpai
pada jenis paku lainnya, yaitu sebagai alat pembersih pisau, garpu dan sendok.
BAB IV
KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa :
- Cici – ciri dari Equistinae adalah Tumbuhan yang bersifat tahunan, berukuran kecil dengan tinggi 0,2-1.5 m. Batang beruas-ruas dan tegak lurus berbentuk bulat.Tumbuhan ini tidak memiliki bunga, namun pada ujung batangnya terdapat suatu badan yang berbentuk gada atau kerucut.
- Bangsa dari Equistinae antara lain : bangsa Equisetales, bangsa Sphenophyllales, dan bangsa Protoarticulatales.
- Equistinae dalam kehidupan sehari – hari dapat dimanfaatkan sebagai obat dan sebagai alat pembersih pisau, garpu dan sendok.
- Tumbuhan ini mempunyai batang merayap dalam tanah yaitu semacam rizom dengan cabang-cabang yang tegak
- Batangnya yang keras disebabkan dinding selnya mengandung silika. Sporangium terdapat pada strobilus
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2006. Taksonomi Tumbuhan Sphenophyta . Medan :
USU E-Learning.
Cecep, Ahmad.2010. Pterydophyta (Tumbuhan Paku).
Bandung : Rineka Cipta.
Sharma, 2002. Taksonomi Tumbuhan 1. Jakarta : EGC.
Sutrisna,Putu.2011.
Klasifikasi Tumbuhan Sphenophyta. Bandung : Raja Grafindo Persada.
Tjitrosoepomo.
1989. Taksonomi Tumbuhan Sphenophyta, Pteridophyhta. Yogyakarta : UGM


Posting Komentar